Mengapa Kasus Covid-19 Terus Meningkat dan Kasus Kematian Menurun?

Mengapa Kasus Covid-19 Terus Meningkat dan Kasus Kematian Menurun?
Ilustrasi virus corona, gejala virus corona, gejala Covid-19, pasien virus corona(Shutterstock/Petovarga)

Penulis Vina Fadhrotul Mukaromah | Editor Inggried Dwi Wedhaswary

KOMPAS.com – Sudah lebih dari 8 bulan sejak kasus pertama Covid-19 diidentifikasi di Wuhan, China, dan kasus-kasus baru masih terus dilaporkan di berbagai negara hingga kini. Namun, tren secara umum menunjukkan penambahan kasus baru Covid-19 terus terjadi, tetapi kasus kematian mengalami penurunan. Sejumlah spekulasi pun muncul dengan kondisi seperti ini. Mengapa angka kematian menurun di saat kasus Covid-19 naik? Berikut beberapa alasan yang diduga menjadi penyebabnya:

Peningkatan kapasitas tes

Melansir Financial Times, 25 Agustus 2020, salah satu alasan yang mungkin dapat menjadi penyebab adalah peningkatan kapasitas tes yang dilakukan suatu negara. “Dengan epidemi yang makin berkembang, tes telah menjadi sebuah instrumen yang kemungkinan tersedia secara luas,” kata Profesor Kedokteran di University of East Anglia, Paul Hunter.

Baca juga: Dinkes DKI: OTG dan Pasien Covid-19 Gejala Ringan Hanya Perlu Isolasi Tanpa Tes Swab Ulang

Menurut Hunter, pada Maret dan April, kebanyakan negara hanya dapat mengetes orang-orang yang telah benar-benar sakit dan kemungkinan meninggal. “Sementara, saat ini, program pengetesan umumnya telah mencakup proporsi yang lebih tinggi, termasuk bagi mereka yang menunjukkan gejala ringan atau tanpa gejala sama sekali,” kata dia.

Menurut Public Health England, lebih dari dua pertiga kasus baru pada minggu terakhir Agustus adalah orang berusia di bawah 40 tahun. Angka ini dikaitkan dengan peraturan yang lebih longgar pada aktivitas sosial masyarakat. Pada puncak pandemi, hanya 28 persen kasus terkonfirmasi pada orang yang berusia di bawah 40 tahun.

Padahal, seperti diketahui, meskipun Covid-19 dapat menyebabkan kematian pada semua kelompok usia, kondisi yang parah lebih sering dialami oleh orang-orang yang lebih tua. “Pada gelombang pertama Covid-19, orang-orang tua menjadi kelompok yang paling tinggi terpapar. Berbeda dengan sekarang,” kata Hunter.

Dibandingkan beberapa bulan lalu, orang-orang berusia muda kini juga banyak terpapar virus corona dan umumnya memiliki risiko kematian yang lebih rendah daripada orang tua. Menurut data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), sekitar 3.000 orang berusia di bawah 45 tahun telah meninggal karena virus corona.

Melansir Vox, 6 Juli 2020, jumlah tersebut dikategorikan sedikit dari total 130.000 kasus yang dikonfirmasi AS saat itu. Namun demikian, dapat disimpulkan bahwa, meskipun kemungkinannya kecil, kelompok yang tidak begitu rentan dapat pula mengalami kondisi yang serius hingga kematian.

Perawatan yang lebih baik

Seperti diberitakan The Guardian, Minggu (6/9/2020), para peneliti di Oxford telah menerbitkan sebuah analisis yang menunjukkan bahwa orang-orang yang terpapar Covid-19 di bulan Juni memiliki kemungkinan empat kali lebih kecil untuk meninggal dunia di rumah sakit. Ada beberapa faktor yang diduga berpengaruh, mulai dari perubahan instrumen atau alat yang digunakan hingga penyesuaian dari rumah sakit yang membuat beban dokter sesuai dengan kapasitasnya.

Misalnya, di Inggris, kapasitas rumah sakit menjadi lebih longgar. Data dari pemerintah menunjukkan bahwa jumlah tempat tidur yang masih ditempati oleh pasien Covid-19 semakin berkurang. Kemudian, di antara para pasien yang harus dipindahkan ke unit perawatan intensif, sebagian besar juga dinyatakan pulih.

Kemungkinan penyebab lainnya

Para ahli juga mendiskusikan kemungkinan alasan lain dengan menurunnya tingkat kematian ini. Salah satu faktornya adalah kemungkinan orang-orang terinfeksi dengan muatan virus atau viral loads yang lebih rendah karena penularan lebih banyak terjadi di komunitas daripada fasilitas perawatan atau rumah sakit. Paparan virus dengan muatan rendah dapat mengurangi kemungkinan berkembangnya infeksi menjadi lebih serius. Selain itu, ada pula yang menyebut pengaruh musim.  Pasalnya, di musim panas belahan bumi utara, pada umumnya, orang-orang lebih sehat. Sementara, pada saat yang sama, virus corona bertahan lebih baik di luar tubuh dalam kondisi musim yang lebih dingin dan kering. Kemudian, dugaan kontroversial lainnya adalah adanya perubahan genetik yang membuat virus menjadi kurang berbahaya saat terpapar ke manusia. Namun, hingga kini, belum ada bukti yang kuat yang dapat mendukung dugaan tersebut.

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2020/09/08/073500365/mengapa-kasus-covid-19-terus-meningkat-dan-kasus-kematian-menurun-?page=all

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *