Dinkes DKI: OTG dan Pasien Covid-19 Gejala Ringan Hanya Perlu Isolasi Tanpa Tes Swab Ulang

Dinkes DKI: OTG dan Pasien Covid-19 Gejala Ringan Hanya Perlu Isolasi Tanpa Tes Swab Ulang

Dinkes DKI: OTG dan Pasien Covid-19 Gejala Ringan Hanya Perlu Isolasi Tanpa Tes Swab Ulang
Ilustrasi virus corona, Covid-19(Shutterstock)

Penulis Rindi Nuris Velarosdela | Editor Jessi Carina

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengatakan, orang konfirmasi positif Covid-19 tanpa gejala dan memiliki gejala ringan atau sedang hanya perlu menjalani isolasi mandiri selama 10 hari. Mereka tidak perlu melakukan follow up atau pengulangan pemeriksaan PCR setelah melakukan isolasi mandiri. “Bagi kasus konfirmasi tanpa gejala, gejala ringan, dan gejala sedang tidak perlu dilakukan follow up atau pengulangan pemeriksaan swab atau PCR,” kata Widyastuti dalam keterangannya, Kamis (4/9/2020).

Widyastuti menjelaskan, pasien positif Covid-19 tanpa gejala dinyatakan selesai isolasi jika telah menjalani isolasi mandiri selama 10 hari sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi. Sedangkan untuk pasien bergejala ringan dan sedang, dinyatakan selesai isolasi jika telah dihitung 10 hari sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi dengan ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan.

Baca juga: Satgas Covid-19 Ingatkan Masyarakat Ekstra Hati-hati Saat Lakukan Aktivitas Ini

Pasien Covid-19 dengan gejala ringan biasanya mengalami demam, batuk, nyeri tenggorokan, kongesti hidung, malaise, sakit kepada dan nyeri otot. Sedangkan pasien terkonfirmasi positif Covid-19 yang dimasukan dalam kategori gejala sedang adalah mereka yang memiliki gejala pneumonia ringan, tetapi tanpa sesak nafas.

Sementara itu, lanjut Widyastuti, untuk pasien Covid-19 bergejala berat atau kritis tetap perlu melakukan follow up atau pengulangan pemeriksaan swab atau PCR di rumah sakit. Pasien Covid-19 dikategorikan memiliki gejala berat ketika mereka memiliki pneumonia, yang disertai dengan sesak napas atau napas berat.

Tanda sesak napas atau napas berat yang dimaksukan yaitu dengan frekuensi napas lebih dari 30 kali per menit, dan saturasi kurang dari 93 persen, serta rasio PaO2/FiO2 kurang 300. “Untuk pasien bergejala berat atau kritis, perlu mendapatkan hasil pemeriksaan follow up swab atau PCR satu kali negatif, dengan ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan,” ucap Widyastuti.

Pemprov DKI Jakarta saat ini tengah menyiapkan regulasi agar seluruh pasien Covid-19 bisa diisolasi di rumah sakit maupun tempat yang disediakan pemerintah. Dengan begitu, nantinya tidak akan ada isolasi mandiri bagi pasien Covid-19 meski hanya bergejala ringan atau tanpa gejala.

Pertimbangan peniadaan isolasi mandiri di rumah karena ditemukannya klaster rumah tangga. Fakta lainnya adalah ada pasien isolasi mandiri yang tidak melaksanakan prosedur dengan baik dan benar. Untuk itu, Pemprov DKI Jakarta bakal sepenuhnya bertanggung jawab mengisolasi pasien di lokasi yang telah ditentukan baik di rumah sakit maupun Wisma Atlet.

Sumber: https://megapolitan.kompas.com/read/2020/09/03/16592221/dinkes-dki-otg-dan-pasien-covid-19-gejala-ringan-hanya-perlu-isolasi?page=all

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tim Layanan Pelanggan kami siap menjawab semua pertanyaan Anda