Gugus Tugas Jelaskan 3 Tes Deteksi Covid-19

Gugus Tugas Jelaskan 3 Tes Deteksi Covid-19
Petugas medis mengambil sampel petugas PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) saat tes swab di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Senin (27/4/2020). PT KCI bersama Dirjen Perkeretaapian Kemenhub, Dishub dan Labkesda Provinsi Jawa Barat serta Dinkes Kota Bogor melakukan tes swab untuk 350 warga yang terdiri dari petugas PT KCI dan penumpang KRL Commuter Line yang dilakukan secara massal dan random dengan mengumpulkan cairan atau sampel dari bagian belakang hidung dan tenggorokan sebagai salah satu metode untuk mendeteksi dan mencegah penyebaran virus Corona (COVID-19) di moda transportasi KRL Commuter Line. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/hp.(ANTARA FOTO/ARIF FIRMANSYAH)

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan ada 3 cara untuk deteksi Covid-19. Cara pertama adalah dengan menggunakan metode pemeriksaan real time polymerase chain reaction (RT PCR). “RT PCR ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas cukup tinggi sekitar 95 persen,” kata Wiku dalam konferensi persnya di Graha BNPB Jakarta, Selasa (5/5/2020). Kemudian cara yang kedua, lanjut dia, adalah menggunakan metode pemeriksaan tes cepat molekuler (TCM).

Pemeriksaan ini biasanya digunakan untuk memeriksa penyakit tuberculosis (TB) ataupun HIV. Ia menjelaskan, TCM memerlukan alat konversi berupa cartridge untuk bisa melakukan pemeriksaan Covid-19. Namun, permasalahannya di Indonesia kesulitan untuk mendapatkan cartridge dalam jumlah banyak.

Baca juga: Pemerintah Luncurkan Layanan Psikologi untuk Covid-19

“Jadi menggunakan sebuah tes yang relatif cepat dilakukannya secara molekuler, dan ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas cukup tinggi sekitar 95 persen,” ungkapnya. Kemudian cara yang terakhir adalah dengan menggunakan metode rapid test. Menurut Wiku, rapid tes memiliki tingkat sensitivitas yang lebih rendah banding RT PCR dan TCM.

“Rapid test ini memiliki kelemahan juga, bisa cepat tapi punya kelemahan spesifisitas dan sensitivitasnya tidak tinggi sekitar 60-80 persen,” ujarnya. “Sehingga akibatnya kalau tidak spesifik bisa saja sensitif menemukan sesuatu yang positif tapi setelah dites dengan yang gold standart yaitu RT PCR tadi bisa saja hasilnya lain,” sambung dia.

Wiku menjelaskan, saat ini Indonesia menggunakan rapid test RDT antibodi, yakni memeriksa keberadaan virus corona melalui keberadaan antibodi manusia. Tetapi karena hasilnya tidak begitu akurat maka hasil pemeriksaan rapid test perlu dikonfimasi ulang menggunakan pemeriksaan RT PCR. “Karena begitu banyaknya masyarakat maka dengan menggunakan rapid test, itu bisa menjadi screening untuk dilakukan tes selanjutnya,” ungkap Wiku.

Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2020/05/05/13460291/gugus-tugas-jelaskan-3-tes-deteksi-covid-19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *