Peningkatan Pasien Covid-19 dan Metode Pemulihan di RSD Wisma Atlet

Peningkatan Pasien Covid-19 dan Metode Pemulihan di RSD Wisma Atlet

Peningkatan Pasien Covid-19 dan Metode Pemulihan di RSD Wisma Atlet
Petugas kesehatan menggunakan alat pelindung diri saat memberikan berkas pasien Covid-19 saat tiba di pos pemeriksaan IGD Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19, Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (16/9/2020). Gubernur Anies Baswedan pada Sabtu pekan lalu mengatakan saat ini pasien terpapar Covid-19 dengan status Orang Tanpa Gejala atau OTG akan dirawat di RSD Wisma Atlet, sebanyak 1.740 pasien Covid-19 yang dirawat inap hingga Rabu, 16 September 2020.(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)

Penulis Achmad Nasrudin Yahya | Editor Kristian Erdianto

JAKARTA, KOMPAS.com – Video antrean mobil ambulans yang mengular di sekitar Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, viral melalui media sosial belakangan ini. Dalam video berdurasi 29 detik itu terlihat sejumlah mobil ambulans mengantre di sekitar depan pintu masuk area RSD Wisma Atlet. Pihak pengelola RSD Wisma Atlet, yakni Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) membenarkan soal antrean tersebut.

Wakil Panglima Kogasgabpad Brijen TNI Muhammad Saleh Mustafa menuturkan antrean ambulans terjadi pada pukul 20.00 WIB, Selasa (15/9/2020) malam. Penyebab terjadinya antrean itu akibat adanya peningkatan jumlah pasien yang akan dirawat di rumah sakit dadakan tersebut. Hal itu diperparah dengan adanya kedatangan ambulans secara bersamaan.

Baca juga: Covid-19 Diperkirakan akan Jadi Penyakit Musiman

“Karena ambulans ini (datang) bersamaan waktu, datang dalam jumlah yang banyak,” ujar Saleh dalam konferensi pers yang digelar BNPB, Rabu (16/9/2020). “Kalau tidak salah tadi malam ada peningkatan datang itu mencapai 100 persen. Biasa datang itu sekitar sampai dengan 300-an, ini tambah lagi, di Tower 5 itu sudah 600 pasien,” kata dia. Saleh mengatakan, antrean ambulans terjadi juga karena faktor pintu.

Saat kejadian antrean itu, hanya terdapat satu pintu yang dibuka. “Kebetulan pada malam itu, pintu yang dibukanya cuma satu sehingga terjadi antrean. Padahal kami sudah rapat sebelumnya dengan tim dari rumah sakit, bahwa nanti kami akan membuka dua pintu,” kata Saleh. 

Saleh menjelaskan, pada dasarnya terdapat alur kedatangan ambulans yang sudah diatur. Pengaturan itu diterapkan bagi ambulans dari RSD Wisma Atlet dan Puskesmas dari Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta. Hal itu dilakukan supaya tidak terjadi penumpukan karena adanya kedatangan ambulans secara bersamaan.

Namun demikian, akibat banyaknya pasien yang harus dievakuasi membuat kedatangan ambulans secara bersamaan tak bisa terhindarkan. Hingga kini, RSD Wisma Atlet tengah merawat 1.740 pasien terkonfirmasi positif. Jumlah pasien tersebut berdasarkan data terbaru dari Komando Gabungan Wilayah I (Kogabwilhan I) pada pukul 08.00 WIB, Rabu (16/9/2020).

Kapasitas diklaim masih terkendali

Kepala Pusat Kesehatan TNI Mayjen TNI Tugas Ratmono menuturkan saat ini RSD Wisma Atlet masih mampu menerima pasien, baik yang bergejala maupun pasien berstatus orang tanpa gejala (OTG). Klaim itu merujuk kondisi terkini kapasitas rumah sakit yang diyakini masih terkendali.

Di mana pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri atau OTG di tempatkan di tower 4 dan tower 5. Tower 4 memiliki kapasitas tempat tidur sebanyak 1.546 unit. Hanya saja, sejauh ini belum ada penghuni yang menempati tower ini. Sementara, tower 5 tersedia 1.570 tempat tidur dan 610 di antaranya sudah terisi.

Secara persentase, jumlah penghuni di tower ini sudah mencapai 38,85 persen. Sedangkan tower 6 dan tower 7 digunakan bagi pasien Covid-19 bergejala ringan dan sedang. Tower 6 memiliki 1.036 tempat tidur dan sudah dihuni oleh 922 orang dengan persentase penghuni mencapai 89 persen.

Kemudian tower 7 tersedia tempat tidur sebanyak 1.578 unit dan sudah terisi sebanyak 578 penghuni, dengan persentase penghuni sebanyak 50,57 persen. Dengan rincian tersebut, pihak pengelola meyakini kapasitas RSD Wisma Atlet masih terkendali. “Jadi masih cukup untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan di Wisma Atlet ini,” kata Tugas.

Sementara itu, Kakesdam Jaya Kolonel CKM Stefanus Dony menuturkan, tower 4 yang dipersiapkan sebagai tempat isolasi mandiri saat ini masih memerlukan perbaikan instalasi. Perbaikan itu bertujuan untuk menciptakan rasa nyaman bagi pasien. “Supaya nanti digunakan tidak ada kekurangan, sehingga pasien pun nyaman,” kata Dony.

Peta jalur pasien

Untuk menghindari antrean, pihak pengelola sebelumnya sudah merancang peta masuk dan keluar bagi pasien maupun mobil ambulans yang akan memasuki area RSD Wisma Atlet. Setidaknya terdapat dua pembagian jalur bagi pasien yang akan masuk maupun keluar. Pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dirawat di Tower 6 dan Tower 7.

Untuk bisa memasuki area tersebut, pasien terkonfirmasi positif bisa masuk melalui Jalan HDR Motik kemudian belok kiri melewati Jalan Sunter Kemayoran dan Jalan RDH Keneng Mudatsir. Sesampainya di Jalan RDH Keneng Mudatsir, pasien positif Covid-19 kemudian belok kiri menuju pintu masuk area Tower 6 dan Tower 7.

Sementara itu, pasien Covid-19 berstatus OTG dirawat di Tower 5. Untuk bisa memasuki area ini, pasien bisa mengawali perjalanan melalui Jalan HDR Motik. Kemudian dilanjutkan belok kiri memasuki Jalan Sunter Kemayoran. Adapun pintu masuk Tower 5 berada di sebelah kiri Jalan Sunter Kemayoran.

Tower 5 berada tak jauh dari Tower 6. Sedangkan, pintu keluar pasien Covid-19 di RSD Wisma Atlet berada di Jalan RDH Keneng Mudatsir. Dengan rancangan jalur ini, pihak pengelola pengaturan jalur ini membuat antrean ambulans dapat terhindarkan. “Dengan adanya pengaturan jalur ini, diharapkan ke depan tidak ada lagi antrean yang panjang di Rumah Sakit Wisma Atlet,” kata Saleh.

Metode perawatan pasien bergejala ringan dan sedang

Guna mempercepat pemulihan kondisi kesehatan pasien terkonfirmasi postif Covid-19 bergejala ringan dan sedang, pihak pengelola menerapkan berbagai metode perawatan. “Jadi di sana (Wisma Atlet) sudah dilakukan sesuai dengan prosedur medis untuk memberikan bagaimana percepatan pasien, baik bergejala ringan maupun sedang,” ujar Tugas. Ia menjelaskan, perawatan bagi pasien Covid-19 bergejala ringan dan sedang mendapat dukungan sejumlah fasilitas perawatan. Fasilitas itu berupa monitor suhu hingga tensi pasien.

Selain fasilitas, pasien juga mendapat pengobatan sesuai standar dan pedoman penanganan Covid-19 secara global. Para pasien ini juga mendapat perawatan langsung dari tim tenaga kesehatan hingga dokter spesialis. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) berperan sebagai penanggung jawab tim ini. Ia mengatakan, dokter di RSD Wisma Atlet selalu ada setiap waktu dan bekerja sesuai jadwal tugas.

“Jadi pelayanan secara cepat bisa dilakukan untuk langsung melihat pasien seusai prosedur yang ada,” kata Tugas. Ia menambahkan, di RSD Wisma Atlet juga tersedia dokter ahli anestesi yang mengembangkan bidang intensifis dengan penyakit kritis. Dokter ahli ini akan dilibatkan apabila terdapat pasien yang memburuk dan memerlukan rumah sakit rujukan. “Maka mereka sudah bisa melakukan penanganan di sana sembari menunggu rujukan yang mana akan kita tujukan,” jelas Tugas.

Tersedia area jogging bagi pasien OTG Pasien berstatus OTG yang menghuni Tower 5 juga mendapat perawatan berbagai metode dari tim tenaga medis. Misalnya, pemulihan lewat kegiatan berolahraga. “Tower 5 ini dilakukan beberapa hal, yang paling penting bagaimana menjaga kebugaran, menjaga jasmaninya dengan olahraga, kita lakukan secara bersama-sama,” ujar Tugas. Tugas menjelaskan, kegiatan olahraga tersebut dilakukan di lantai 16 yang berada tower 5. Di lantai 16 ini juga tersedia area untuk joging dan tempat berkumpul yang tentunya menerapkan protokol keseahtan.

Tugas mengatakan, ketersediaan fasilitas dan pedoman perawatan ini didukung dengan manajamen sesuai standar prosedur. Manajemen ini dibuat langsung tim dokter di RSD Wisma Atlet. Ia menambahkan bahwa pedoman tersebut sudah disesuaikan dengan pedoman penanganan standar nasional.

“Contohnya (pedoman) dari Kemkes, pedoman dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia dan lain sebagainya,” kata Tugas. “Jadi di sana betul-betul dilakukan pemberian terapi atau pemberian protokol kesehatan sesuai dengan yang harus diberikan pada pasien yang dirawat di sana,” terang Tugas.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tim Layanan Pelanggan kami siap menjawab semua pertanyaan Anda