Peneliti Sarankan Jangan Terlalu Berharap pada Vaksin, Ini Alasannya

Peneliti Sarankan Jangan Terlalu Berharap pada Vaksin, Ini Alasannya

Peneliti Sarankan Jangan Terlalu Berharap pada Vaksin, Ini Alasannya
Ilustrasi vaksin corona(SHUTTERSTOCK/Orpheus FX)

Penulis Nur Fitriatus Shalihah | Editor Rizal Setyo Nugroho

KOMPAS.com – Berbagai penelitian masih terus dilakukan di seluruh dunia untuk berlomba-lomba mendapatkan vaksin virus corona Covid-19. Pandemi virus corona yang telah berjalan lebih dari setengah tahun ini mengakibatkan lebih dari 25 juta orang terinfeksi. Sebanyak 847.087 orang di antaranya meninggal dunia. 

Baca juga: Karyawan Starbucks Korea Selatan Tidak Tertular Covid-19, Bukti Masker Lindungi dari Virus Corona

Ada lebih dari 170 vaksin virus corona yang saat ini dalam tahap penelitian. Dari jumlah tersebut, 7 di antaranya menjadi yang terdepan.  Sebanyak 7 calon vaksin ini memasuki uji coba tahap 3 sebelum nantinya mungkin salah satunya akan disetujui.  Dikutip dari New York Times (NYT), Kamis (27/8/2020), NYT telah mengonfirmasi setidaknya ada 88 kandidat vaksin yang sedang menjalani masa uji praklinis aktif di laboratorium dari seluruh dunia. Sebanyak 67 diantaranya telah dijadwalkan memulai uji klinis sebelum akhir 2021. Perlu waktu berbulan-bulan untuk melihat apakah ada yang aman dan efektif dari vaksin yang diuji coba tersebut. 

Jangan terlalu berharap pada vaksin

Para ilmuwan yang mengembangkan vaksin mengatakan bahwa desain vaksin mereka mungkin dapat memicu respons kekebalan yang lebih kuat atau jauh lebih murah untuk diproduksi, atau keduanya. Akan tetapi Direktur Center for Vaccines and Immunology di University of Georgia Ted Ross menyebut untuk tidak terlalu berharap pada vaksin yang saat ini masih diteliti. 

“Vaksin pertama mungkin bukan yang paling efektif,” kata dia yang juga sedang mengerjakan vaksin eksperimental dengan target bisa masuk uji klinis pada 2021. Dari vaksin yang ada, prinsipnya kurang lebih sama. Vaksin-vaksin itu mengirimkan protein yang menutupi virus corona (yang disebut spike). Vakin itu akan mendorong sistem kekebalan untuk membuat antibodi agar bisa melawan virus corona. Tetapi beberapa peneliti khawatir bahwa masyarakat mungkin menaruh terlalu banyak harapan pada strategi yang belum terbukti berhasil.

Ketersedian

Bahkan jika gelombang pertama vaksin berhasil, banyak peneliti khawatir bahwa tidak mungkin membuatnya cukup cepat untuk memenuhi kebutuhan global. “Ini adalah permainan angka, kami membutuhkan banyak dosis,” kata ahli virus di Icahn School of Medicine di Mount Sinai New York City Florian Krammer. Selain itu, saat dunia mendapatkan vaksin yang murah dan efektif untuk melawan Covid-19, itu tidak berarti semua kekhawatiran pandemi sudah berakhir.

Dilansir CNBC, penasihat virus corona Gedung Putih Amerika Dr. Anthony Fauci mengatakan bahwa kemungkinan para ilmuwan menciptakan vaksin yang sangat efektif (yang memberikan perlindungan 98 persen atau lebih terjamin) untuk virus itu kecil. Ilmuwan berharap vaksin virus corona yang efektif setidaknya 75 persen, 60 persen, bahkan 50 persen juga dapat diterima masyarakat.

Fauci yang juga Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular mengatakan hal itu karena peluang untuk berhasil atau efektif 98 persen tidaklah besar. “Anda harus memikirkan vaksin sebagai alat agar pandemi tidak lagi menjadi pandemi, tetapi menjadi sesuatu yang terkontrol dengan baik,” tambahnya.

Fauci seperti dikutip dari Reuters mengingatkan meski nantinya vaksin ditemukan, masyarakat tetap harus melakukan upaya pencegahan agar tidak tertular virus corona Sebab, ia menegaskan, vaksin diperkirakan tak bisa 100 persen efektif menanggulangi Covid-19. Ia mengatakan masyarakat tidak boleh meninggalkan protokol kesehatan, seperti mengenakan masker, menjaga kebersihan tangan, hingga menjaga jarak.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) di Amerika, mengatakan akan mengesahkan vaksin virus corona selama aman dan setidaknya 50 persen efektif. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, vaksin yang 50 persen efektif kira-kira setara dengan vaksin influenza, tetapi di bawah efektivitas satu dosis vaksinasi campak (sekitar 93 persen efektif). Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan meskipun ada harapan para ilmuwan akan menemukan vaksin yang aman dan efektif, namun tidak pernah ada jaminan.

Bila vaksin tidak ada

Menghadapi skenario terburuk yang bisa saja terjadi, para ahli menyumbang beberapa saran untuk rencana cadangan bila vaksin ternyata tidak berhasil dikembangkan. Berikut, beberapa di antaranya:

1. Meningkatkan kapasitas tes dan kecepatan waktu pengolahan hasil tes. Hal ini dapat membantu mendeteksi wabah sebelum lepas kendali.
2. Menyewa dan melatih lebih banyak pelacak kontak, dan mungkin bahkan bereksperimen dengan aplikasi digital untuk membantu mereka. Hal ini dapat membantu melacak penyebaran virus.
3. Menemukan perawatan yang efektif yang mempercepat pemulihan dan meningkatkan kemampuan bertahan hidup dapat membuat pandemi lebih mudah untuk dikelola sebagai ancaman sehari-hari.
4. Mantan pejabat kesehatan Obama, Andy Slavitt, menyerukan dorongan nasional untuk memproduksi masker N95 berkualitas tinggi untuk penggunaan umum sehari-hari, dan bukan masker kain yang lebih umum.

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/30/173000565/peneliti-sarankan-jangan-terlalu-berharap-pada-vaksin-ini-alasannya?page=all

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tim Layanan Pelanggan kami siap menjawab semua pertanyaan Anda